Pusat Adat dan Sentra Kerajinan MHA Simardangiang Diharapkan Jadi Contoh Pelestarian Hutan

Sebarkan:

Foto: Bupati Taput meresmikan Pusat Adat dan Sentra Kerajinan Masyarakat Hukum Adat di Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu. (topjurnalnews.com/diskominfo taput)
TOPJURNALNEWS.COM - Bupati Tapanuli Utara (Taput) Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, didampingi Ketua Masyarakat Hukum Adat (MHA) Simardangiang, Tampan Sitompul, Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, bersama tokoh adat, tokoh agama, meresmikan Pusat Adat dan Sentra Kerajinan MHA Simardangiang, di Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu, Kamis (12 /2/2026).

Kegiatan tersebut dirangkai dengan peluncuran Buku Kemenyan di Tapanuli, serta doa dan syukuran atas terlewatinya bencana alam di Taput.

Bupati JTP Hutabarat bersyukur terselenggaranya kegiatan tersebut karena keberadaan pusat adat ini memperkuat identitas dan jati diri sebagai orang Batak.

Dia menyoroti potensi besar kemenyan sebagai komoditas unggulan daerah. Dimana Taput merupakan penghasil kemenyan terbesar dan harus mampu meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi produk.

“Kalau kemenyan dilestarikan dengan baik, pemerintah akan membantu menaikkan nilai ekonomisnya. Melalui MHA, kemenyan harus berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

‎Usai peresmian, Bupati meninjau alat penyulingan kemenyan menjadi bahan baku parfum dan meminta agar peralatan tersebut dirawat serta dimanfaatkan secara maksimal.

Bupati JTP Hutabarat mendorong pembentukan kelompok usaha dan memastikan dukungan pemasaran melalui Dekranasda agar produk turunan kemenyan dapat menjadi andalan baru Taput selain ulos dan produk unggulan lainnya. 

‎Dia mengajak masyarakat untuk menanam minimal satu pohon kemenyan per orang sebagai gerakan penghijauan dan pelestarian alam. 

Bupati berharap, Simardangiang dapat menjadi contoh penguatan masyarakat hukum adat berbasis pelestarian hutan dan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan di Taput.

Ketua MHA Simardangiang, Tampan Sitompul, mengapresiasi Bupati dan seluruh masyarakat. Dia berharap, pusat adat yang telah dibangun dapat menjadi ruang pelestarian nilai-nilai adat bagi generasi penerus.

Diungkapkannya, sekitar 80 persen lahan persawahan masyarakat telah rusak akibat bencana alam, sehingga saat ini pohon kemenyan menjadi salah satu solusi penopang utama perekonomian warga.

‎Perwakilan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Taput, Edward Siregar, mengajak seluruh pihak untuk memanfaatkan alam secara berkelanjutan tanpa eksploitasi berlebihan.

Hal yang sama, Direktur GJI, Panut Hadisiswoyo, menegaskan pusat adat jangan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi harus menjadi representasi perjalanan panjang leluhur dalam menjaga ruang hidup yang sehat dan sejahtera.

Hadisiswoyo berharap, pengelolaan wilayah dan hutan adat Simardangiang semakin lestari, karena adat dan hutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. (bisnur sitompul)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini