Tapi apakah anda tahu, Masjid ini merupakan peninggalan Kerjaan Negeri Padang di Kota Tebingtinggi.
Pada masa berdirinya Kerajaan Negeri Padang di daerah Sumatera Utara. Kerajaan tersebut terdiri lima distrik di daerah Sumatera Utara, termasuk Tebingtinggi Deli.
Kerajaan Negeri Padang di Tebingtinggi Deli sejak abad XVII yang dipimpin Raja Umar Baginda Saleh. Kemudian di lanjutkan anak dan cucunya untuk meneruskan dan memangku Kerajaan Negeri Padang.
Pada saat era Kerajaan Negeri Padang ini juga, Kolonial Belanda juga ingin menguasai daerah Kerajaan Negeri Padang Tebing Tinggi Deli.
Namun setiap yang memimpin Kerajaan Negeri Padang, melakukan perlawanan terhadap Kolonial Belanda. Mulai dari Raja Pertama sampai Raja ke XI, melakukan perlawanan kepada Belanda.
Memasuki era kepemimpinan Raja Kesembilan di Kerajaan Negeri Padang Tebingtinggi Deli, Tengku Haji Muhammad Nurdin Maha Raja Muda pada 1870 sampai 1914.
Pada masa itulah Masjid Raya Tebingtinggi Deli didirikan, oleh Tengku Haji Muhammad Nurdi. Kemudian sekarang Masjid tersebut yang berganti nama Masjid Raya Nur Addin.
Akan tetapi menurut Ikhtisar Sejarah pada tahun 1985 - 1907 Majelis Kerapatan Adat Bermusyawarah besar untuk memindahkan pemerintahannya dari kampung bulian ke kampung Bandar Sakit berikut, semua inventaris pemerintahan dan inventaris wakaf/masjid dan sebagainya.
Pada masa pemerintahan saat itu Tengku Haji Muhammad Nurdin mendirikan dan mewakafkan beberapa buah masjid dan beberapa buah pondok yang termasuk Masjid Raya Kota Tebingtinggi Deli. Masjid ini dikuasakan kenanzirannya, diberikan kepada Tuan Haji Ibrahim.
Selanjutnya, untuk mengetahui tahun pastinya berdiri Masjid Raya Kota Tebingtinggi belum diketahui dan masih memperkira-kira tahunnya melalui masa kekuasaan RajaTengku Haji Muhammad Nurdin.
Masjid Raya Kota Tebing Tinggi ini dibangun dengan konsep arsitektur Melayu dan Eropa. Dahulu sebelum di ganti pagarnya konsep Eropa pada Masjid ini terlihat, namun sekarang tinggal terlihat konsep bangunan Melayu saja.
Ciri ini terlihat dari pintu dan jendela Masjid Raya Tebingtinggi yang belum diganti dari berdiri Masjid tersebut. Kemudian terdapat juga sumur yang berusia sama dengan Masjid Raya Tebingtinggi tersebut.
Masjid Raya ini memiliki kegiatan rutin selain ibadah salat lima waktu, setiap hari Senin, ba'da salat Isyah melakukan Taklim.
Kegiatan di bulan Ramdan melakukan tadarus dan membuat acara buka bersama di Masjid Raya, dengan menu Bubur Daging.
Setiap hari puasa Ramadan, Masjid Raya Tebingtinggi menyediakan 300 porsi bubur daging untuk buka bersama bagi yang berpuasa.
Selanjutnya, di Tebingtinggi hanya Masjid Raya Nur Addin yang memiliki program menerima sedekah dengan barkode melalui digital dan masuk langsung ke rekening masjid tersebut.(Red/TRM)