Sungai Deli Dibersihkan, Bobby Nasution Bersihkan Alur Bersejarah Kota Medan

Sebarkan:

Teks foto : Pasukan TNI dan tim gabungan dari BWS, dan jajaran Pemko Medan yang sedang membersihkan alur sungai Deli di perbatasan Desa Helvetia dan Kelurahan Pulau Brayan Kota, Medan Barat, Kamis pagi (5/10).
TOPJURNALNEWS.COM - Gagasan Walikota Medan, Bobby Afif Nasution membersihkan sungai Deli mendapat sambutan positif. Karena kondisi sungai itu sudah cukup memprihatinkan, dan telah menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat, selama ini. Baik masyarakat dari kawasan pusat kota Medan, maupun warga permukiman permukiman yang ada di sepanjang alur sungai yang bermuara di Belawan itu.

Tidak tanggung-tanggung, Kasad Jendral TNI Dudung Abdurrahman mendukung penuh gagasan Bobby Nasution dan menyiapkan 1000 prajurit untuk mendukung proses pembersihan sungai utama di kota Medan itu. Maka sejak sepekan lalu pembersihan itu pun digelar secara serentak.

Jalur Perdagangan Bersejarah

Langkah pembersihan (normalisasi) terhadap sungai Deli pernah dilakukan di penghujung tahun 80-an atau lebih dari 30 tahun lalu. Maka wajar kalau kondisi sungai Deli saat ini sangat memprihatinkan. Apalagi mengingat pertambahan jumlah penduduk kota Medan dalam kurun waktu 30 tahun.

Tapi yang tidak kalah penting adalah Bobby telah berupaya membersihkan alur atau jalur perdagangan yang bersejarah jauh sebelum kehadiran kota Medan tahun 1590. Memang tidak banyak yang tahu barangkali, sungai Deli di masa lalu adalah jalur perdagangan masyarakat dari bagian hulu yang membawa rempah seperti lada, pala, dan tembakau untuk kemudian dibawa ke Malaka.

Sungai Deli semakin penting di era Kesultanan Deli yang berpusat di Labuhan. Para pedagang dari luar negeri ada yang langsung menuju hulu di Deli Tua untuk mendapatkan bahan bahan hasil pertanian masyarakat. Bahkan sempat beberapa kali terjadi ketegangan yang nyaris menimbulkan perang suku, ketika Datuk Pulau Brayan protes ke Sultan Deli, yang ingin menguasai secara mutlak alur sungai Deli mulai dari Labuhan sampai Deli Tua. 

Namun, dengan ikut campur ya pengusaha Belanda yang mulai masuk ke tanah Deli, Datuk Pulau Brayan terpaksa tunduk terhadap aturan Sultan Deli menyangkut cukai dari perdagangan yang berlangsung di daerah ini.

Alur sungai Deli juga yang digunakan untuk membawa ribuan bal tembakau dari kebun Helvetia untuk dikapalkan di Labuhan sebelum diberangkatkan ke Eropah di era Nienhuys, sang pelopor perkebunan tembakau komersial di tanah Deli yang mendirikan perusahaan Deli Maastchappij itu. Sungai inilah yang menjadi saksi sejarah, berapa juta gulden yang dihasilkan dari tembakau untuk membangun sejumlah kota di negeri Belanda seperti Amsterdam, Rotterdam dan sebagainya. Dan sungai Deli pula menjadi saksi sejarah, bagaimana kemudian Nienhuys dan Delimaastchappij akhirnya membangun kampung Medan menjadi sebuah kota, mulai dari hotel deBoer, kantor Deli Maatschappij, gedung Gemmentee, kantor pos, rumah sakit Deli Mij, kawasan Kesawan, sampai rumah mewah Mayor Tjong A Fie.

Sebagai sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa, sampai saat ini sungai Deli masih mengalir di tempatnya. Iya memang tidak mampu berbicara apalagi menuliskan catatan sejarah dari apa yang dialaminya. Namun sebagai sebuah anugerah yang begitu berharga, Medan sebagai sebuah kota dan warga yang ada di kota itu seharusnya tetap mempertahankan kelestarian sungai bersejarah itu untuk seterusnya.

Walikota Medan Bobby Nasution pantas mendapat apresiasi atas gagasannya yang mungkin tidak sempat terpikirkan Walikota Walikota sebelumnya. Namun alangkah manisnya jika Walikota dari generasi millenial ini juga mengingat dan melestarikan makam sang pendiri kota Medan, Guru Patimpus di Kampung (Desa) Lama Kecamatan Hamparan Perak. Patimpus juga tidak boleh pupus dari ingatan sejarah jika bicara tentang kota Medan. Namun makamnya terasa kurang diperhatikan, teronggok di sudut kampung, di balik rimbun bambu dan bangunan pagar kompleks perumahan. (Syaiful Anwar Lubis).

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini