RSUD Tarutung Miliki Tiga Fasilitas Strategis demi Mutu Layanan dan Kenyamanan Pasien

Sebarkan:

Foto: Bupati Taput JTP Hutabarat, Wakil Bupati Deni Lumbantoruan, ketua TP PKK Ny Neny Angelina JTP Hutabarat, dan Plt Direktur RSUD Tarutung dr Bobby Simanjuntak, meresmikan poli penyakit dalam dan jantung, serta MRI. (topjurnalnews.com/bisnur sitompul)
TOPJURNALNEWS.COM - Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) melakukan lompatan besar dalam standarisasi layanan kesehatan untuk masyarakat dengan meresmikan tiga fasilitas strategis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarutung, Kamis (30/4/2026). 

Transformasi ini mencakup pengoperasian alat pemindaian mutakhir, perluasan poliklinik, hingga pembentukan pusat pengembangan sumber daya manusia tenaga medis.

Tiga fasilitas yang diresmikan oleh Bupati Taput, Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, bersama Wakil Bupati, Deni Parlindungan Lumbantoruan dan ketua TP PKK Kabupaten Taput, Ny Neny Angelina JTP Hutabarat, yaitu gedung dan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI), gedung Poli Penyakit Dalam dan Jantung, serta Unit Pelatihan dan Pengembangan Kompetensi Tenaga Medis.

Bupati Taput, JTP Hutabarat, mengatakan kesiapannya menempuh skema pinjaman hingga Rp 50 miliar demi membangun infrastruktur rumah sakit yang lebih representatif bagi warga tanpa harus dirujuk ke luar daerah.

Dia menegaskan, kemudahan warga menjadi prioritas utama di balik keputusan ini. Kondisi masyarakat yang kini semakin kritis dan kerap melakukan pengecekan mandiri sebagai dasar untuk membangun fasilitas diagnostik dan laboratorium mutakhir di RSUD Tarutung.

"Kalau alatnya ada di sini, Bapak/Ibu tidak usah capek ke luar daerah, menambah biaya keluarga untuk menginap. Jika laboratoriumnya sudah bagus, di sini saja perawatannya," tegas Bupati JTP Hutabarat.

Perluasan Poli Jantung dan Penyakit Dalam menjadi dua spesialisasi dengan volume pasien tertinggi di RSUD Tarutung yang dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang ada.

Langkah ini merupakan respons langsung Bupati JTP Hutabarat setelah menyaksikan sendiri kondisi antrean yang semrawut dan penumpukan berkas yang memakan ruang, terutama pada hari Senin ketika kunjungan pasien paling banyak.

"Jangan masyarakat yang sudah sakit malah dipersulit. Kita harus pangkas hambatan birokrasi bagi warga yang membutuhkan pertolongan," ujar Bupati JTP Hutabarat.

Dia menambahkan, progam selanjutnya adalah menjadikan RSUD Tarutung sebagai rumah sakit pendidikan yang mandiri, sekaligus meraih sertifikasi ISO sebagaj target yang akan mengangkat kredibilitas institusi ini ke standar internasional.

Transformasi berikutnya, Bupati JTP Hutabarat, mengatakan pembangunan Catheterization Laboratory (Cath Lab) sebagai fasilitas untuk tindakan intervensi jantung, termasuk pemasangan stent atau ring ini sedang berlangsung dan ditargetkan beroperasi pada bulan Juni 2026. Kehadiran Cath Lab akan menggenapi ekosistem diagnostik yang sudah terbentuk yakni CT Scan, Rongsen, dan MRI akan bekerja beriringan dengan fasilitas intervensi jantung dalam satu atap.

"Pembangunan Cath Lab sedang berlangsung. Program kita ke depan, RSUD Tarutung bisa melayani pemasangan ring jantung sehingga masyarakat tidak perlu lagi ke luar daerah," ujar Bupati.

Inovasi Diagnosa: Satu-satunya MRI di Tapanuli Raya

Kehadiran MRI menjadi pencapaian paling menonjol dalam peresmian ini. Plt Direktur RSUD Tarutung, dr Bobby Simanjuntak MKM, menjelaskan bahwa tidak seperti CT Scan atau perangkat radiologi konvensional yang memancarkan radiasi, MRI bekerja sepenuhnya menggunakan kekuatan medan magnet sehingga lebih aman bagi pasien. Alat ini merupakan satu-satunya di wilayah Tapanuli Raya.

Lanjutnya, pengadaan fasilitas ini dilakukan melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) dengan pihak ketiga sebagai langkah progresif yang diambil, mengingat belum tersedianya bantuan dari kementerian agar pelayanan diagnostik ini bisa segera dinikmati masyarakat tanpa harus dirujuk ke Medan atau Pematangsiantar.

Dengan gedung baru, alur pelayanan berubah secara mendasar mulai proses pendaftaran, verifikasi fingerprint, hingga pemeriksaan kini dilakukan langsung di lokasi poli masing-masing sehingga tidak lagi menumpuk di satu titik loket utama di depan rumah sakit. 

Jumlah loket pendaftaran ditambah dari satu menjadi lima unit, sementara titik fingerprint untuk administrasi BPJS Kesehatan meningkat menjadi 13 titik.

Selain itu, sistem rumah sakit diupayakan terkoneksi secara digital dengan puskesmas di seluruh wilayah kabupaten Taput untuk mempercepat dan menyederhanakan proses rujukan berjenjang.

SDM Unggul Tanpa Bergantung Luar Daerah

dr Bobby Simanjuntak menekankan, kecanggihan alat hanya bermakna jika ditopang oleh kualitas tenaga medis yang setara. Unit Pelatihan dan Pengembangan Kompetensi yang baru diresmikan hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Gagasan Unit Pelatihan bagi tenaga medis lahir atas saran Ketua Tim Penggerak PKK Taput, Ny Neny Angelina JTP Hutabarat.

Inovasi ini disebut sebagai salah satu yang masih minim dimiliki rumah sakit lain di Sumatera Utara.

Setelah terakreditasi, RSUD Tarutung dapat mendatangkan narasumber ahli dari Jakarta atau Medan langsung ke Tarutung menjadi jauh lebih efisien secara anggaran dibandingkan mengirim puluhan staf ke luar daerah. 

Sertifikat pelatihan yang diterbitkan diakui Kementerian Kesehatan dan bernilai Satuan Kredit Poin (SKP), yang krusial bagi pengembangan karier dokter, perawat, dan bidan. Akreditasi dari Kementerian Kesehatan ditargetkan diperoleh pada Mei mendatang.

"Terima kasih kepada Bapak Bupati dan Ibu Ketua TP PKK Taput Ny Neny Angelina JTP Hutabarat yang telah memberikan perhatiannya untuk pengembangan RSUD Tarutung," imbuh dr Bobby Simanjuntak.

Sementara itu, Fendiv Januar Lumbantobing SPd, Konsultan Strategis Perlindungan Anak, menilai langkah RSUD Tarutung memiliki dampak signifikan kepada masyarakat yang kerap luput dari perhatian dalam layanan kesehatan, khususnya anak-anak.

"Saya mengapresiasi penggunaan teknologi medis yang ramah perkembangan anak dan pemangkasan birokrasi melalui sistem digital. Langkah ini mengurangi trauma psikologis akibat antrean panjang dan perjalanan rujukan jauh, sehingga hak anak untuk mendapatkan pertolongan medis yang cepat, tepat, dan aman kini dapat terpenuhi di daerah sendiri," ungkap Fendiv.

Menurutnya, pandangan itu memperkuat argumen bahwa modernisasi RSUD Tarutung bukan sekadar soal alat dan gedung, melainkan soal memastikan setiap lapisan masyarakat, termasuk anak-anak yang paling rentan untuk mendapatkan haknya atas layanan kesehatan yang layak.

RH Tambunan, seorang warga yang sedang menjalani perawatan kesehatan, menyampaikan penilaiannya secara lugas.

"Pelayanan di RSUD Tarutung sangat menyenangkan, baik dari dokter maupun perawatnya. Kami mengapresiasi kebijakan Bupati dan Ibu Bupati yang sudah menyiapkan anggaran daerah sehingga kami sebagai warga dapat dilayani dengan baik," ungkap Tambunan. (bisnur sitompul)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini